Wagub Papua Lepas 30,2 Ton Kopra Hasil Petani Sarmi ke Surabaya

foto: Wabup Papua saat pelepasan kopra ke Surabaya
Jakarta, ST
Wakil Gubernur Papua Aryoko AF Rumaropen melepas pengiriman 30,2 ton kopra hasil produksi petani di Kabupaten Sarmi ke Surabaya Jawa Timur sebagai upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas perkebunan masyarakat.
Pelepasan kopra kemarin di Pelabuhan Jayapura dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Sarmi, DPRP, instansi pelabuhan dan karantina serta mitra pembangunan, termasuk EcoNusa.
Aryoko mengatakan, pengiriman tersebut menunjukkan potensi komoditas lokal Papua dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
“Nilai ini mungkin baru sebuah awal, tetapi memiliki makna yang sangat besar. Ini adalah bukti bahwa apabila potensi lokal dikelola secara serius, maka akan tercipta lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,”katanya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (15/8).
Menurut dia, pengembangan komoditas unggulan Papua membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, petani, dunia usaha, mitra pembangunan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Sebanyak 30,2 ton kopra tersebut dihimpun EcoNusa selama dua bulan melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya dan kelompok petani lainnya dengan melibatkan 410 petani dari 33 kampung di Kabupaten Sarmi.
Kopra tersebut dibeli dengan harga berkisar Rp8.000 hingga Rp13.000 per kilogram, kemudian dikonsolidasikan di Jayapura, Papua, sebelum dikirim ke perusahaan pengolahan minyak nabati di Surabaya Jatim. Nilai transaksi pengiriman mencapai sekitar Rp450 juta.
Manajer EcoNusa Regional Papua Maryo Saputra Sanuddin mengatakan, kopra tersebut merupakan hasil produksi masyarakat adat Sarmi yang tersebar di tiga suku besar, yakni Sobey, Manirem, dan Rumbuay.
“Ini salah satu bentuk kolaborasi bersama antara pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat masyarakat adat. Ini membuktikan masyarakat adat bisa dan siap untuk bersaing,”ujarnya.(man)
